Minggu, 01 Juni 2008

Mencintai Buku

Suatu kebiasaan yang ingin saya tumbuhkan kepada putra kami adalah kecintaan kepada buku. Saban hari Sabtu dan/atau Minggu, saya dan istri mengajak buah hati kami yang masih berusia 6 bulan berkunjung ke Perpustakaan Kota Jakarta Pusat, di Jalan Tanah Abang I. Jarak tempuh 5 menit jalan kaki dari istana kami di Petojo Enclek XIII. Meski anak kami benar-benar masih belum paham benar apa itu buku, apa itu perpustakaan, kami tetap nekat mengajak dia turut serta ke rumah buku itu. Alasannya, kami ingin mengenalkan suasana buku, suasana perpustakaan kepadanya.

Sebuah keadaan miris terjadi di perpustakaan. Saban kami di sana, pengunjung tak pernah banyak. Kadang hanya kami sendiri bertiga, kadang ditambah dua atau tiga anak SD yang lebih banyak bermain di dalam perpustakaan ketimbang duduk membaca. Perpustakaan dengan ribuan judul buku itu sepi pengunjung. Iseng-iseng bertanya ke petugas. Ia menuturkan bahwa hari Sabtu dan Minggu paling maksimal 20 orang. Hari biasa pun kurang lebih sama.

Kondisi perpustakaan yang sepi berbanding terbalik dengan kolam renang yang berada tepat di depan hidung gedung perpustakaan. Lebih dari 100 orang, separuhnya anak-anak bermain-main di kolam. Untuk menikmati kolam, pengunjung harus merogoh kocek Rp1.600. Bagi yang membawa kendaraan harus membayar parkir. Padahal masuk perpustakaan gratis. Aneh bin ajaib. Orang lebih senang bermain-main ketimbang menghabiskan waktu dengan membaca.

Hemat saya, Membaca buku bisa mengubah pola pikir seseorang untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan. Membaca buku juga bagian dari proses pendidikan bagi pembacanya. Hanya saja, sebagian besar kegiatan membaca selama ini kerap diterima sebagai kewajiban atau keharusan. Hal itu dikatakan pakar pendidikan Arief Rachman. Menurutnya, orang tua dan guru harus terlibat aktif menumbuhkan minat baca di kalangan anak dan siswa. Jangan biarkan anak menonton tayangan televisi yang tidak jelas. Menyalahkan anak dan siswa saja tentu tidak bijak, apabila orang tua dan guru tidak memberikan teladan. Sangat indah ketika kita menyaksikan anak-anak sejak dini sudah dibiasakan untuk membaca

Membaca buku erat kaitannya dengan menulis. Keduanya adalah elemen yang saling mendukung dan tidak dapat dipisahkan. Menulis tanpa membaca ibarat orang buta yang sedang berjalan. Artinya, dalam proses penulisan, seseorang akan mengalami banyak kesulitan, tertatih-tatih dan sekali berjalan lantas berhenti karena tidak tahu tujuannya. Sementara itu, membaca tanpa menulis ibarat orang pincang. Pengetahuan yang kita miliki tidak dimanfaatkan untuk kepentingan banyak orang. Karena ilmu pengetahuan yang tidak dikembangkan dan disampaikan kepada orang lain secara lisan atau tulisan terasa kurang memberikan makna dalam kehidupan.

Membaca tidak lain adalah supplement food atau energy drink bagi para penulis. Kalau ada penulis yang mengaku bisa produktif tanpa membaca sama sekali, hemat saya ada dua kemungkinan. Pertama, ia memang sudah mencapai tahap ‘manusia guru’ atau manusia setengah dewa. Kedua, ia berbohong, dan ini rupanya lebih masuk akal. Menulis bisa gampang kalau suplai informasi ke otak dan batin kita memadai. Proses pemasukan informasi itu berasal terutama dari aktivitas membaca. Membaca berarti memberi makna. Dengan membaca kita menafsirkan teks sekaligus belajar memahami konteks. Kita mencoba memahami apa yang tersurat sekaligus apa yang tersirat. Ini menjadi bagian pemulihan energi untuk penulis.

Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, kita menimba banyak manfaat. Membaca itu memperluas wawasan dan memperkaya perspektif kita, memperoleh banyak solusi atas berbagai masalah yang dihadapi, mengatasi trauma atau frustrasi, memadukan kerja pikiran sadar dan tidak sadar. Selain itu, membaca berarti mengolahragakan pikiran dan menimba kesegaran baru.

Sudah saatnya budaya membaca itu menjadi budaya kita. Anak-anak dilatih untuk membaca dan mencintai bacaan sejak dini. Perpustakaan yang ada di mana-mana bukanlah museum bagi buku-buku bacaan. Itu universitas rakyat, seperti moto perpustakaan umum di daerah-daerah. Ada banyak buku menarik dan berguna di perpustakaan-perpustakaan kita yang ada saat ini. Namun, tak ada artinya jika tidak dibaca. Benar kata-kata Joseph Brodsky, pengarang asal Rusia: “Ada beberapa kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku.” Bahkan ada anekdot satir untuk kita: “Kalau orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur.”

Masyarakat membaca (reading society) bisa dimulai dari kebiasaan membaca. Mencintai buku adalah awal dari kebiasaan gemar membaca. Sudahkan Anda membaca hari ini?

Salam,

Ferdinandus Setu

Merindukan Pancasila

Pancasila. Satu, Ketuhanan Yang Maha Esa. Dua, Kemanusiaan Yang Adil dan Beradab. Tiga, Persatuan Indonesia. Empat, Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dan perwakilan. Lima, Keadilan Sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Itulah ingatan saya akan bunyi lengkap Pancasila, lambang dasar negara bangsa kita. Tepat 100 pesen ingatan saya ataukah ada beberapa bagian yang terlupan? Seandainya saya salah, saya tak sendiri. Harian Kompas, 1 Juni 2008 melaporkan hasil survei yang dilakukannya pada tanggal 28-29 Mei Mei 2008 melalui telepon pada 835 responden berusia 17 tahun ke atas yang dipilih acak dari Buku Petunjuk Telepon Jakarta, Yogyakarta, Surabaya, Medan, padang, Pontianak, Banjarmasin, Makassar, Manado dan Jayapura. Hasil survey Kompas tersebut menunjukkan bahwa 48,4 persen responden berusia 17-29 tahun menyebutkan kelima Pancasila salah atau tidak lengkap. 42,7 persen responden berusian 30-45 tahun salah menyebutkan kelima Pancasila. Responden berusia 46 tahun ke atas lebih parah, yakni sebanyak 60,6 persen yang salah menyebutkan kelima sila Pancasila.

Mari kita cek ingatan saya akan bunyi lengkap kelima sila Pancasila. Sila pertama benar : Ketuhanan Yang Maha esa. Sila kedua masih benar : Kemanusiaan yang Adil dan Beradab. Sila ketiga tetap benar: Persatuan Indonesia. Sila keempat salah telak. Sila keempat seharusnya berbunyi : Kerakyatan yang dipimpin oleh hikmat kebijaksanaan dalam permusyawaratan/perwakilan. Sila kelima benar : Keadilan sosial bagi seluruh rakyat Indonesia.

Ternyata sila keempat memang sila yang paling banyak dilupakan. Menurut survey Kompas, sebanyak 39,4 persen responden salah menyebutkan sila yang menjadi dasr kehidupan dsemokrasi tersebut. Sila pertama yang paling tepat disebutkan yakni sebanyak 81,6 persen. Hanya 12,3 persen yang salah menyebutkan.

Dalam tajuk rencana, edisi 2 Juni 2008, Kompas menulis bahwa Pancasila adalah sesuatu yang khas, luar biasa dan mendahului zamannya, suatu sintesis yang dihargai banyak negara. Pancasila adalah suatu faham demokrasi yang sekaligus mengamanatkan kesejahteraan dan keadilan. Bukan saja, kemanusiaan yang adil dan beradab tetapi sekalgius yang beriman. Kebebeasan beriman, kebebasan beragama menurut keyakinan masing-masing dalam kerangka sikap dasar saling menghargai dan menghormati.

Reposisi dan revitalisasi Pancasila akhir-akhir ini banyak disuarakan berbagai kalangan,. Di tengah berbagai kesulitan hidup, kusutnyas benang politik, dan terjangan globalisasi, semangat mencari lagi jiwa dan jati diri bangsa tampak menjadi opsi mujarab mengembalikan asas negeri. Lebih dari tiga perempat responden Kompas merindukan Pancasila, yang meninginkan perlunya dimulai kembali penataran Pancasila, tentu dengan konsep baru yang lebih menjawab persoalan zaman.

Benny Susetyo, Sekretaris Dewan Nasional Setara Institut dan Komisi Hak KWI, bertanya gundah : Masih Saktikah Pancasilan Kita? (Kompas, 2 Juni 2008). Romo Benny pantas bertanya, pantas gundah. Menurut dia, pancasila kita sedang menghadapi krisis multimensional. Pancasila kita tengah berhadapan dengan perilaku elite yang tidak peduli rakyat. Pancasila tengah menghadapi tantangan bagaimana membuat orang-orang beragama lebih toleran terhadap yang lain.

Bagi saya, Pancasila itu sebuah seruan untuk, Satu : tidak makan dan minum di muka umum ketika kawan-kawan saya yang Muslim berpuasa. Dua : berbagi rejeki dengan office boy dan security. Tiga : lahir di Flores, sekolah di Yogya, kerja di Jakarta, menikah di Banjarmasin. (Juga masih terharu tatkala mendengarkan lagu Indonesia Raya dikumandangkan). Empat : mendengarkan pendapat kawan dan lawan meski tidak sependapat. Lima : berbuat adil di rumah sendiri yakni berbagi kerjaan domestik dengan istri.

Pancasila, I Miss U.

Salam penuh rindu:

Ferdinandus Setu

Mencontohi Ali

Kali ini saya ingin berkisah tentang Ali. Bukan Ali Sadikin, sang mendiang Bukan Ali Murtopo. Bukan Ali Alatas. Mereka memang pantas diteladani di bidangnya masing-masing. Meski demikian, sudah banyak tulisan dan bahasan tentang mereka. Jadi saya tak mengangkat kisah mereka lagi untuk kali ini.

Ali.Lebih tepatnya Bapak Ali. Ia bukan siapa-siapa. Ia bukan pejabat yang layak diberitakan. Ia bukan pesohor layar kaca yang diinfotainmenkan. Ia hanya rakyat jelata biasa. Ia hanya seorang sopir taksi biasa. Tetapi berjumpa dengan dirinya, saya dibuat kagum, saya dibuat haru, saya dibuat termenung.

Bagaimana tidak! Ia tak punya jari tangan. Ya, saya tak salah. Pak Ali tak punya satu pun jari tangan. Sekali lagi, tak ada satu jari pun ia miliki. Ia cacat sejak lahir. Tapi ia pintar menyetir, ia pintar mengendalikan taksi. Saya tidak terharu karena ia cacat tetapi bisa menyetir mobil, padahal saya memiliki jari lengkap tapi belum bisa menjadi sopir. Bukan itu. Saya terkagum, karena ia tetap bekerja, ia tetap berjuang, bekerja siang malam, untuk menghidupi keluarganya. Terus terang di Jakarta selama dua tahun ini, saya baru sekali menemukan orang yang membuat saya kagum, membuat saya terharu, membuat saya termenung.

Kisah Pak Ali bebanding terbalik dengan wajah buram ibukota, wajah manusia-manusia sehat jiwa raga tapi miskin upaya, miskin usaha, miskin niat. Wajah pengemis jalanan. Wajah pencopet bis kota. Kita perhatikan di jalanan, banyak pemuda yang sehat jiwa dan raga lebih memilih menjadi pengemis dan polisi cepek yang kadang memaksa kita untuk memberikan ”sedekah”. Kita saksikan di angkutan kota, banyak pemuda sehat jiwa dan raga yang memilih mendapatkan uang dengan menjarah tas penumpang.

Saya berjumpa dengan Bapak Ali, Jumat, 30 Mei 2008, sebuah hari yang terik. Nasib mempertemukan kami. Sekali lagi hari begitu terik, ketika saya diminta atasan saya mengantarkan berkas ke gedung wakil rakyat di Senayan (eitsss...saya tak mengantar uang suap kok...hehehehe.) Biasanya kalau ke gedung anggota dewan yang terhormat itu saya selalu naik motor dinas,tapi hari yang terik memaksa saya untuk memanjakan diri : menumpang taksi ke senayan. Sopir taksi ke Senayan, seorang pemuda biasa, yang meski cukup sopan, ia belum layak jadi berita, soalnya ia sehat raganya, tak ada cacat. Ia seperti saya juga yang dianugerahi Tuhan kelengkapan organ raga.

Pak Ali, tokoh kita, adalah sopir taksi Senayan-Merdeka Barat. Seperti biasa, saya mencegat taksi yang lewat, masih di dalam kawasan gedung DPR, seperti biasa saya membuka pintu taksi, seperti biasanya saya mendudukan diriku ke kursi yang tersedia, seperti saya menyebut alamat tujuan saya. Tapi tidak seperti biasanya, ketika mata saya melihat tangan Pak Ali. Pertama saya kaget. (mungkin ada yang bilang, segitu aja kaget, Mas, tapi suer saya cukup kaget). Namun ketika, mobil mulai melaju menembus jalanan Jakarta, mengalirlah percakapan di antara kami.

Begini kisahnya. Pak Ali asli Wonosari, Yogyakarta. Ia merantau ke Jakarta sejak usia remaja. Sejak umur 25 tahun ia mulai menarik taksi. Ketika bertemu saya, usianya 55 tahun. Berarti 30 tahun sudah ia berjuang di jalanan, mengantarkan penumpang ke tujuan. Ia telah berkeluarga. Memiliki lima orang anak. Anak pertama sudah tamat SMA dua tahun silam, dan sekarang belum bekerja, sehingga masih tinggal di rumah. Anak kedua kelas 3 SMA. Anak ketiga kelas 1 SMA. Anak keempat masih duduk di bangku SMP. Anak kelima masih duduk (dan berdiri) di kursi SD. Meski harus menghidupi enam anggota keluarganya, Pak Ali tak pernah mengeluh, tak pernah menuntut. ”Hidup itu harus disyukuri, prinsip hidup kami orang kecil itu nrimo ing pamrih,” kata Pak Ali.

Tak pernah menuntut, tak pernah mengeluh. Satu hal ini yang membuat saya tertegun. Saya tertegun karena malu. Saya sudah diberi banyak kemudahan, sudah diberi banyak anugerah dari Tuhan, masih saja sering menggugat Tuhan: Ah Tuhan tak adil, ah Tuhan pilih kasih.

Telak. Pak Ali telah ”menampar” saya dengan teladannya. Ia tak mau minta belas kasihan orang atas cacat yang ia punya.

Ketika di Amerika berlaku ungkapan Thanks God Its Friday untuk menyambut akhir pekan yang menyenangkan. Maka hari ini, Jumat, 30 Mei 2008, saya pun bersabda : Thanks God Its Friday. Terima kasih Tuhan, karena hari Jumat ini Engkau mempertemukan aku dengan seorang teladan.

Terima kasih Pak Ali, terima kasih atas teladannya hari ini. (Ups kawan, meski saya pulang dari gedung Dewan, saya tak menemukan teladan sang wakil rakyat di sana, teladan itu justru datang dari rakyat jelata).


Salam,

Ferdinandus Setu

Kamis, 22 Mei 2008

Menyandra Dewi

Saat ini, siapa yang tidak kenal Sandra Dewi. Perempuan cantik bernama lengkap Monica Nichole Sandra Dewi Gunawan ini telah menyihir publik Indonesia dalam beberapa bulan terakhir. Kecantikannya tak diragukan lagi, yang oleh sebagian penggemar kecantikan, wajah Sandra Dewi adalah gabungan paras ayu dua pesohor layar kaca : Marsya Timothy dan Dian Sastro.

Perempuan kelahiran Pangkal Pinang (Bangka Belitung), 8 Agustus 1983 ini mencuri perhatian publik lewat akting memukaunya sebagai Indah di Sinetron Cinta Indah yang ditayangkan SCTV pada akhir tahun 2007. Sebelumnya dikenal sebagai Lila dalam film bertajuk Quickie Express yang kocak itu. Sejatinya Sandra Dewi telah mebintangi beberapa FTV seperti FTV Kejamnya Dunia, FTV Hidayah, FTV Kasih sebelumnya. Kesuksesan Sinetron Cinta Indah menghantarkan dia kepada publisitas yang luar biasa. Ia kemudian kita lihat berakting di Sinetron Elang yang ditayangkan di Antv, terakhir kita lihat ia nampang di video klip Wonder Woman-nya Mullan Jamilah (bukan Mulan Jamidong).

Keikutsertaan Sandra Dewi di video klip Wonder Woman itu, tentu karena kencantikannya telah menyihir Ahmad Dani, pentolan group band Dewa yang juga pendiri Manajemen Republik Cinta. Dalam suatu wawancara dengan media infotainment, Ahmad Dani pernah mengatakan bahwa kecantikan Sandra Dewi sungguh luar biasa.

Ahmad Dani tak sendirian. Sebagian besar lelaki Indonesia juga mengagumi kecantikan paras putri pasangan Andreas Gunawan Basri dan Catharina Erliani ini. Perempuan bertinggi badan168cm dengan bobot 49kg ini benar-benar menyihir para pria. Para pria yang terhipnotis oleh kejelitaannya, kemudian melakukan aksi ”menyadra Dewi” ke dalam imajinasinya, baik itu imajinasi positif, maupun imajinasi liar yang berujung pada tindakan negatif.

Salah satu aksi negatif yang berpangkal pada keinginan untuk ”Menyandra Dewi” untuk hidup dalam imajinasi pria, adalah dengan melakukan croping foto asli Sanda Dewi dengan foto-foto bugil. Maka beredarlah ”foto-foto” panas yang berwajah Sandra Dewi dengan tubuh wanita lain. Foto-foto tak senonoh itu pun muncul ke publik dan sempat menghebohkan jagat hiburan Indonesia.

Kenapa Sandra Dewi? Foto iseng itu mungkin membuktikan bahwa saat ini perempuan lulusan London School of Public Relation itu yang ada dalam benak banyak lelaki. Dialah nama dan wajah yang menguasai imajinasi para lelaki lajang dan nonlajang. Setelah wajah, yang paling empuk untuk diimajinasikan tentu ”tubuhnya”, bukan?
Siapa yang salah? Ada yang mengatakan bahwa itu kesalahan Dewi Sandra sendiri. Seperti lirik lagu Iwan Fals: Salah sendiri kau manis, punya wajah teramat manis. Orang yang berpendapat demikian menyatakan bahwa karena kecantikannya lah, ia mendapat perlakuan tidak etis tersebut. Sebagian perempuan yang tidak beruntung dilahirkan sebagai ”yang cantik dan ayu” justru beruntung karena tidak direkayasa fotonya untuk kepentingan imajinasi liar para pria.

Kita masih bisa berbeda pendapat apakah selebriti yang fotonya direkayasa itu menjadi korban atau malah diuntungkan. Ada yang berpendapat bahwa, ada sebagian artis yang sengaja melakukannya supaya namanya terdongkrak. Ah, saya tak perlu menyebut namanya. Yang pasti si korban sebenarnya adalah kata “rekayasa”. Ya, kata tersebut maknanya rusak hancur berantakan. ”Foto itu rekayasa...”, kata orang yang kerap disapa pakar Telematika.

Kita gampang saja mendengar kalimat itu bahkan ikut mengucapkannya. Padahal ada kesalahan besar pada pemakaian kata rekayasa di sana. ”Rekayasa”, pada awalnya diperkenalkan oleh Pusat Bahasa sebagai terjemahan kata ”engineering”. Kata itu misalnya dipakai untuk mengalihbahasakan frasa ”biotechnological engineering” menjadi ”rekayasa bioteknologi” atau ”genetical engineering” menjadi ”rekayasa genetika”, atau ”social engineering” menjadi ”rekayasa sosial”.

Tidak ada nada miring pada kata rekayasa dalam frasa-frasa di atas, bukan? Tapi, kini kata ”rekayasa” kita temukan dalam kalimat ”wah, kasus itu sudah direkayasa”, ”ada upaya-upaya merekayasa jalan persidangan”, ”proses pemungutan suara itu sudah tidak murni lagi, ada pihak-pihak yang merekayasa...”Nah, kenapa ada nada negatif pada kalimat-kalimat itu?

Mari kita renungkan bersama. Sandra Dewi atau artis manapun, adalah perempuan-perempuan perkasa yang tidak mau hanya berada di belakang layar, mereka ingin membuktikan kepada dunia bahwa perempuan pun bisa berkarya. Mereka berkarya lewat akting mereka di layar kaca. Mereka tak ingin menjadi perempuan yang selalu ditempatkan sebagai sub-ordinat.

Lewat peran mereka, mereka sejatinya ingin menyuarakan bahwa sudah saatnya bagi kaum perempuan untuk berjuang merebut kebebasan berbicara termasuk kebebasan berpendapat. Mereka mesti keluar dan membebaskan diri sendiri dari pasung pembungkaman yang membelenggunya. Tibalah saatnya untuk perempuan berbicara, menyuarakan hal yang paling mendesak ini “Stop violence against women”. Ini berarti bahwa pengabdian yang diberikan tidak boleh sampai mengorbankan harga diri dan martabat yang berakibat pada penindasan. Pengabdian haruslah menciptakan kebebasan memperoleh peluang dan hak yang sama dengan lelaki. Maka redefinisi pengabdian seorang wanita itu mutlak perlu dibuat. Katakanlah reformasi pengabdian. Sudah saatnya kaum perempuan berbicara dan berjuang bukan dengan perang melawan laki-laki atau mempersatukan kekuatan untuk menghancurkan lelaki, juga bukan untuk membalas dendam atas mereka tetapi bekerja sama dengan kaum lelaki dalam membangkitkan suatu masyarakat yang tanpa hubungan dominasi dan eksploitasi jenis kelamin. Perempuan mesti berbicara atas namanya sendiri tentang segala hal yang menimpa dirinya. Jika tidak mau dikatakan penghianat. Sebab ada diam yang mengkhianati suara batin, harga diri dan martabat. Inilah diam sebagai penghianatan. Wanita tidak perlu terlalu berharap pada bicara lelaki. Kaum wanita hendaknya menjadi tuan atas dirinya sendiri.

Namun, kita, para pria, (atau sebagian dari kita) banyak yang tidak menerima wanita berkarya. Kita menjegal mereka lewat cara-cara kita yang tidak bijak. Hemat saya, salah satu cara untuk menjegal wanita berkarya adalah dengan tindakan merekayasa foto perempuan seperti yang terjadi pada Sandra Dewi di atas. Dengan keisengan yang berlebihan ini, justru membuat langkah perempuan untuk berkarya menjadi sedikit terhambat. ”Lebih baik saya di rumah, kalau ke rumah saya pasti akan dilindas para pria,” guman sebagian perempuan.

Kita tidak sadar, bahwa dengan menindas serta merendahkan wanita dan pengabdiannya, kita sebenarnya kehilangan bagian yang sangat penting dari kekayaan manusia, dari suatu kecerdasan yang dihayati dalam kehidupan, dari semangat nyata untuk berbagi dan bekerja sama, padahal semua masyarakat sangat membutuhkannya. Karena selama masih ada penindasan itu, kaum perempuan harus mempertahankan diri terhadap kekuatan perusak dengan menggunakan kekayaannya yang berwujud kemurahan hati, kesabaran dan ketekunan. Merekalah yang memiliki berbagai kemampuan dan tenaga yang sangat dibutuhkan oleh generasi mendatang.

Siapapun makluk di bumi ini tak dapat menyangkal dan memungkiri keagungan seorang perempuan. Untuk melukiskan citra agung itu, penulis Christanand dalam bukunya Membangun jati diri wanita mengutip tulisan Yosef Mindszenty menulis, “Orang yang paling penting di dunia ini adalah seorang ibu. Ia memang tidak memperoleh kehormatan telah membangun Katedral Notre Dame. Tidak perlu. Ia telah membangun sesuatu yang lebih hebat dari Katedral manapun, sebuah rumah bagi jiwa yang kekal. Bahkan malaikat pun tidak dianugerahi berkat macam itu. Mereka tidak dapat mengambil bagian dalam satu karya ajaib Tuhan menciptakan orang – orang kudus baru bagi surga. Hanya ibu yang dapat…”
Inilah sebuah pengakuan kebenaran yang tulus bagi keagungan seorang ibu yang juga seorang perempuan. Bila direnungkan lebih jauh, keagungan seorang wanita tidak saja terletak dalam aspek prokreasi tetapi dalam pengabdian yang total bagi kehidupan. Perempuan mengabdi karena cintanya pada seorang anak manusia yang dikandung, dilahirkannya, hingga saat ia melihat dan merasakan dunia dengan segala panorama keindahan serta pahit getirnya kehidupan.

Tempora mutantur et nos mutantur in illis (waktu terus berubah dan manusia pun berubah di dalamnya). Paradigma berpikir tentang perempuan dan pengabdiannya pun tak lepas dari imbas perubahan itu. Ia yang kita kagumi, agungkan, sayangi ternyata menyimpan bilur lama dalam sejara pengabdian manusia. Perempuan telah dan sering di perlakukan sebagai the second class, dipandang rendah dan tak berarti di hadapan budayanya sendiri, dalam dunia tempat anak- anaknya yang dilahirkan berdiam. Pertanyaan retoris buat kita, siapah yang menindas perempuan: lelaki? dirinya sendiri? atau pengabdiannya? Perempuan makhluk sejuta misteri yang tak habis dipikirkan dan dipersoalkan.

Banyak sudah ulasan dan reportase yang diterbitkan hanya untuk membahas siapakah perempuan dan kehidupannya. Tak jarang , semua hal di atas hanya merupakan perulangan pembeberan fakta tentang kekerasan yang di alami perempuan serta kuasa patriarkhi diatasnya.
Annie Lecrec dalam bukunya Kalau Perempuan Angkat Bicara mengupas secara lugas dan berani mengenai apa yang ia dan kaum permpuan umumnya rasakan dan alami sebagai sebagai bukti dan wujud pengabdiannya. Dikatakan bahwa “Jika kebajikan lelaki adalah kekuatan, maka kebajikan perempuan disebut pengabdian. Dan yang menindas perempuan sebenarnya bukanlah kekuatan lelaki melainkan kebajikan perempuan sendiri yang yang selalu dianggap sebagai bernilai tertinggi: Pengabdian.” Dengan demikian, segala tugas yang diserahkan pada perempuam entah sebagai kontruksi budaya seperti tugas kerumahtanggaan, mengasuh anak ataupun secara alami seperti melahirkan harus dilaksanakan melalui dan dengan pengabdian.

Sebuah pengabdian yang tidak datang dengan sendirinya tetapi terungkap dalam bentuk tanpah pamrih, kerepotan dan pengorbanan.
Kita pun bisa bertanya , pengabdian macam manakah yang menindas perempuan? Ketika pengabdian perempuan terpasung belenggu domestifikasi perannya sendiri, di sanalah terjadi penindasan perempuan. Ini berarti peran perempuan hanya dibatasi pada urusan seputar rumah tangga (tripel Sur: kasur, dapur, sumur). Akibatnya, perempuan kurang mendapat kesempatan untuk mengembangkan diri sehingga selalu termajinalisasi dalam kemajuan zaman. Kaum perempuan terlena dalam pengabdiannya sampai –sampai ia tak sanggup bicara tentang dirinya. Mereka terbuai angin tradisi yang sudah demikian jadinya. Tanpa disadari perempuan telah terperangkap dalam arus spiral pembodohan oleh pembungkaman yang melingkupi dirinya yang tentu merupakan ulah sebuah konstruksi sosial bernama patriarkhi.

Mari kita buang aksi kita dalam ”menyadra dewi”, menyandra kaum perempuan ke dalam pasungan ”rumah tangga”. Sebab wanita adalah ibu kita, wanita sejawat kita, wanita adalah sahabat kita.

Oh ya, sebelum menutup tulisan ini, saya ingin menyampaikan kabar duka kepada kita kaum pria, bahwa ternyata, Sandra Dewi yang jelita itu telah menikah. Lho kok? Dengan siapa? Masak Anda belum tahu?
Suaminya adalah Fredley Glenn. (Maaf, sekadar bercanda)


Salam,

Ferdinandus Setu

Rabu, 21 Mei 2008

Menyaksikan Kebangkitan

Lur biasa. 10 Televisi Nasional dan 50 televisi lokal menyiarkan kebangkitan, menyampaikan kepada seluruh pelosok nusantara, sebuah pagelaran akbar bertajuk: Indonesia bangkit, Indonesia Bisa, pada Selasa, 20 Mei 2008. Luar biasa. Selama 90 menit tanpa jedah, dari pukul 19.00 hingga 21.00, setidaknya 250 juta penduduk Indonesia tertuju ke lacar kaya, menyaksikan sebuah pesta akbar satu abad kebangkitan nasional. Luar biasa. Lebih dari 30.000 anak bangsa terlibat dalam pertunjukkan agung mengenang kembali perkumpulan agung : Boedi Utomo 100 tahun silam, yang menjadi cikal bakal persatuan dan kesatuan Indonesia. Sembilan puluh menit penuh sensasi, sembilan puluh menit yang membangkitkan nasionalisme, sembilan puluh menit yang menghipnotis untuk tidak beranjak pergi dari depan televisi.

10 Televisi Nasional dan 50 televisi lokal menyiarkan kebangkitan. Saya menyaksikan kebangkitan nasional. Istriku juga menyaksikan kebangkitan negeri ini. Anda juga telah menyaksikan kebangkitan yang sama, menit demi menit.

Menit pertama. Pengarah acara Tantowi Yahya dan Maudi Kusnaidi membuka pagelaran, sembari menyerukan Indonesia Bangkit, Indonesia Bisa, Indonesia Jaya. Mata saya menatap layar kaca dengan seksama, memperhatikan siapa saja yang datang di Senayan.

Menit kedua. Presiden Susilo Bambang Yudhoyono berserta Ibu Ani Yudhoyono dan Wakil Presiden Jusuf Kalla dan Nyonya Mufidah Kalla memasuki tribun utama, lalu melambaikan tangan kepada seluruh warga Indonesia, baik di Senayan, maupun di rumah. Mata ini terus menatap layar kaca, namun dari samping, istriku menggerutu : Lihat Presidenmu itu, hanya bisa tersenyum, hanya bisa tersenyum.

Menit ketiga dan menit keempat. Lima penerjun payung dari unsur sipil, polisi, angkatan udara, angkatan darat dan dan angkatan laut mempersiapkan peralatan dan perlengkapan (sepertinya adegan persiapan ini telah dishuting sebelumnya). Saya masih menatap layar kaca, istriku kembali menggerutu: ah paling nanti ada penerjun payung yang jatuh.

Menit kelima. Penerjun payung dari kalangan sipil mulai terlihat di langit Senayan. Jantungku berdegup kencang dan aku pun berdoa : jangan sampai jatuh, jangan sampai jatuh. Kalau jatuh apa kata dunia. Sejurus kemudian, sang penerjun kita mendarat tepat di karpet warna merah yang telah disediakan. Sebuah pendaratan yang sangat indah. Dada ini lega, hati ini senang. Istriku cemberut, si sipil tak jatuh.

Menit keenam hingga menit ke sembilan. Berturut-turut, penerjun payung dari angkatan udara, angkatan darat, angkatan laut dan terakhir dari kepolisian mendarat mulus di landasan yang dituju. Dada ini lega, hati ini senang. Namun istriku makin cemberut, sebab tebakannya keliru, tak ada penerjung payung yang terjatuh.

Waktu melaju hingga menit ke sepuluh, ketika Penyanyi Edo Kondologit tampil dan menyanyikan lagu kabangsaan: Indonesia Raya. Dada ini bergumuruh hebat ketika syair-syair lagu gubahan Wage Rudolf Supratman itu dikumandangkan sang penyanyi asal Papua. Tak terasa, bibir ini turut menggumam : Indonesia tanah airku, tanah tumpah darahku. Istriku tersenyum melihat saya berdengung tak menentu. Edo Kondologit bernyanyi dengan vokal luar biasa. Nampak di layar, pak SBY dan JK turut bergumam Indonesia Raya.

Menit kelima belas adalah menitnya perempuan, ketika Tiga Diva tampil di layar, menyanyikan lagu Bendera ciptaan Eross. Lagu yang dipulerkan grup band Coklat itu kembali menyentak alam bawah sadar, sebuah suasana kebatinan antara aku dan bangsaku. Saya malu, sudah lama saya tak pernah menghormati bendera bangsaku, sudah lama saya tak berdiri mengangkat tanganku untuk menghormati bendera negeriku.

Menit kesembilan belas, rasa maluku memuncak, ketika si cantik Agnes Monica tampil menyanyikan lagu Merah Putih. Lagu penuh hormat terhadap bendera bangsa ciptaah Gombloh itu sangat indah dibawakan sang biduanita kita yang jelita. Yang makin membuat saya terpaku di depan televisi, Agnes tak sendirian melantunkan Merah Putih. Ia ditemani 5.000 anggota paduan suara Mahasiswa Univeritas Indonesia. Istriku yang semula cemberut pun ikut berdengung.

Menit ke dua puluh lima, dimulailah rangkaian tarian terbaik anak bangsa yang dibungkus dalam acara bertajuk: Harmoni Nusantara, yang dibawakan oleh setidaknya 1.000 penari. Tari Saman dari Nanggroe Aceh Darusalam menyapa Indonesia. Sebuah tarian yang mengindikasikan kekompakan dan kerjasama seluruh penarinya yang berjumlah 600 orang. Saya menyaksikan dengan seksama. Baru kali ini, Saman ditarikan oleh 600 orang di lapangan terbuka.

Menit kedua puluh sembilan, Tari Sigulempong dari Sumatera Utara menyusuli napak tilas perjalanan Indonesia dari Pulau Andalas berikutnya. Sekitar 100 penari tampil membawakan tarian sembari diiringi lagu Sigulempong yang berirama Medley. Tarian Lisoy pun ditampilkan untuk menambah semarak suasana Senayan.

Menit ke tiga puluh dua giliran 50 anak Minang, yang menyajikan tarian Tak Tong Tong. Sebuah tarian yang menggabarkan persaudaraan warga Sumatera Barat dalam kerukunan hidup bermasyarakat. Di layar kaca juga nampak konfigurasi tulisan Indonesia Jaya oleh 4.000 tentara. Melihat tarian Minang, saya teringat dongeng Malin Kundang, si anak durhaka. Aku bisa menjadi Malin Kundang, jika tidak mengakui ”ibu” negaraku Indonesia.

Menit ketiga puluh lima, mata dan hati Indonesia beralih ke Jakarta, Ibo kota negara. Sekitar 100 warge Jakarte menampilkan tarian Ronggeng dan tarian khas Ondel-Ondel yang telah melegenda itu. Warna-warni baju khas Betawi terlihat manis di televisi. Saya membangunkan anak kami Serolf dan berbisik di telinganya : Nak, lihat tuh, tarian adatmu. (maklum anak kami lahir di Jakarta, dia tentu warge asli Jakarte).

Menit ke tiga puluh delapan, tradisi Sunda nampak di layar kaya. Tarian Manuk Dadali pun ditampilkan oleh 50 penari. Lewat tarian ini, warga Sunda ingin menyampaikan bahwa kebiasaan tiga A yakni Asah, Asih dan Asuh adalah sebuah kebiasaan yang harus terus dikembangkan. Istri saya sudah gelisah, malas berlama-lama di depan layar kaca.

Menit keempatpuluh dua, tarian Padang Bulan dari Jawa Tengah digelarkan oleh 50 pemuda. Kegembiraan terlihat di Senayan, kamera pun diarahkan ke Presiden kita yang terus bertepuk tangan memberikan penghargaan kepada para pengisi acara.

Menit keempat puluh empat, Tarian Lir Sale dari Jawa Timur pun diperlihatkan, yang dilanjutkan dengan Tari Bali yang diiringi dengan lagu berjudul Janger. Kultur pulau Dewata terlihat jelas lewatn tarian yang telah dikenal di manca negara tersebut. Hati saya tidak sabaran menunggu giliran NTT tiba. Entah kenapa, sukuisme atau rasa kedaerahan masih muncul juga, meski nasionalisme tetap yang utama.

Harmoni Nusantara lansung menuju Kalimantan. Tarian Perang khas adat Dayak pun dipentaskan. Pernak-pernik Burung Enggang yang menjadi khas Borneo pun terpampang. Dan yang menarik, ketika 50 anak-anak ikut ambil bagian dalam tarian ini. Suara Maudy : keterlibatan anak-anak ini adalah simbol regenerasi dalam kehidupan berbangsa dan bernegara. Patung Mudok yang menjadi menjadi lambang penolak bala juga dihadirkan. Istriku bertutur: semoga tak ada lagi bencana di negeri ini. Empat puluh delapan menit telah beranjak dari pukul sembilan belas malam.

Menit ke lima puluh, Jusuf Kalla tersenyum, ketika lagu Angin Mamiri yang mengiringi tarian khas Makassar dipentaskan. 100 penari memberi hormat kepada pemimpin negara sebelum melanjutkan atraksinya. Saya sudah mengambil kesimpulan: NTT tak akan tampil lagi. Ah sebuah sukuisme yang aneh, atau mungkin tepatnya kerinduan akan kampung halaman yang telah memuncak.

Namun ternyata kesimpulan saya salah, ketika irama lagu Anak Kambing Saya, terdengar jelas. Nah itu dia, sebuah tarian khas Nusa Tenggara Timur pun ditampilkan. Mana di mana anak kambing saya, anak kambing saya ada di kampung baru, caca marica hei hei, cara mari ca hei hei, caca mari ca ada ada di kampung baru. Saya pun tidak malu-malu untuk ikut bernyanyi, meski suara saya tidak mendukung. Waktu menunjukkan pukul 19.55 WIB.

Tari Goro-goro dari Tanah Maluku menjadi tujuan mata berikutnya, yang diikuti dengan Yamko Rambe Yamko dari Papua. Sekitar 100 penari yang didatanagkan langsung dari Papua mewarnai Istora Senayan. Dari Sabang sampai Merauke telah di gelar. Itulah Indonesia. Sebuah zamrud khatulistiwa yang kaya budaya. Di layar kacara terlihat konfigurasi peta kepulauan Indonesia yang ditampilkan oleh 4.000 tentara, berganti-ganti dengan konfigurasi bendera Merah Putih, Garuda Pancasila, bahkan potret Presiden SBY dan Ibu Negara.

Hampir sejam sudah pagelaran kebangkitan nasional ditayangkan. Memupuk nasionalisme lewat lacar kaca ternyata butuh perjuangan. Entah kenapa, acara selanjutnya bagi saya mulai membosankan, atau karena mata saya kelelahan.

Ketika drumband Taruna AU, Taruna dan Taruna AL tampil di Senayan, saya merasa haus, saya merasa dahaga, saya butuh air. Hendak mengambil air di galon, ternyata air minum kami telah kering. Maka, ketika 1.000 personil angkatan darat menampilkan atraksi bela diri, saya mohon pamit kepada televisi kami: ke warung sebelah membeli air minum. Nasionalis tetap butuh air untuk mengusir dahaga, bukan?

Ketika saya kembali dari membeli air, waktu telah menunjukkan pukul 20.35, berarti tinggal 25 menit lagi pagelaran kebangkitan nasional ini akan berakhir. Lalu tiba-tiba kain Merah Putih raksasa mememuhi lapangan Senayan. Bendera hasil karya Pak Sunadi ini diarak membentuk gelombang, sembari diiringi lagu Bangun Pemuda Pemudi. Nasionalisme saya makin memuncak ketika lagu Majulah Negeriku karya Presiden SBY dikumadangkan.

”Majulah Negeriku, bangunlah negeriku, sejahtera semua anak cucu. Rukunlah bangsaku, hidup dalam tanai airku, bangunlah negeriku, merah putih berkibar selamanya. Jangan sia-siakan kesempatan yang kita miliki bersama, untuk mengubah masa depan kita. Bangkitlah bangsaku, mari kita singsingkan lengan baju. Bangunlah negeriku, sejahtera semua anak cucu, rukunklah bangsaku, hidup dalam damai tanah airku. Majulah negeriku. Merah putih berkibar selamanya. Merah putih berkibar selamanya”.

Istri sudah hafal di luar kepala lagu ciptaak kepala negara kita ini. Istana tempat kami berteduh berada di samping markas Pasukan Pengaman Presiden (Paspampres). Nah, lagu yang aslinya dinyanyikan oleh Tantowi Yahya ini menjadi lagu wajib bangun pagi dan dan bangun tidur siangnya para pengawal presiden. Maka ketika lagu itu kembali dinyanyikan di puncak 100 tahun kebangkitan nasional, istri saya tak tinggal diam, dia pun bernyanyi. ”Nasionalis juga nih istriku’, gumam saya dalam hati.

Tepat pukul 21.00 pagelaran akbar itu berakhir. Ucapan terima kasih pun disampaikan kepada seluruh anak negeri yang telah berpartisipasi dalam perhelatan luar biasa tersebut. Saya beruntung masih memiliki mata untuk menyaksikan aneka tradisi negeri ini. Sembilan puluh menit penuh warna telah saya saksikan malam ini. Sebuah karya anak bangsa yang patut dicatat, yang patut dikenang.

Pukul 21.05, Deddy Miswar tampil di layar kaca dengan kata-kata indah : Bangkit itu susah, susah melihat orang susah , senang melihat orang senang. Bangkit itu takut, takut korupsi, takut makan yang bukan haknya. Bangkit itu mencuri, mencuri perhatian dunia dalam prestasi.Bangkit itu marah, marah bila martabat bangsa diinjak. Bangkit itu tidak ada, tidak ada kata menyerah, tidak ada kata putus asa. Bangkit itu malu, malu menjadi benalu, malu karena minta melulu. Bangkit itu aku, untuk bangsaku.

Pada pukul 22.00, ketika saya hendak ke peraduan, setelah menyaksikan sembiln puluh menit atraksi anak pertiwi merayakan kebangkitan nasional, saya menarik sebuah kesimpulan ini: Saya bangga menjadi anak Indonesia. Saya mencintai Indonesia. Saya akan mempersembahkan bakti dan pengabdian terbaikku untuk negeri ini, lewat caraku sendiri.

Salam,

Ferdinandus Setu

Senin, 19 Mei 2008

Mengenang Harkitnas

Kita mengenal cukup banyak hari yang diperingati secara nasional. Ada peringatan hari pahlawan, hari ibu, hari anak, hari lingkungan hidup, hari sumpah pemuda, hari proklamasi, hari perempuan, hari buruh, hari kebangkitan nasional dan hari peringatan lainnya. Apa yang kita buat pada hari-hari peringatan semacam itu? Tentu sesuai dengan jenisnya, pelaku peringatan adalah mereka yang menjadi bagian dari hari peringatan bersangkutan. Yang merayakan hari buruh adalah para buruh. Hari perempuan diisi dengan berbagai kegiatan oleh kaum perempuan. Demikian pun hari anak. Lalu untuk hari proklamasi, sumpah pemuda dan hari pahlawan, serta hari kebangkita nasional misalnya, siapa yang merayakannya? Sebagai warga bangsa, kitalah yang memberi makna dan merayakan peringatan hari-hari bersejarah itu.
Bukan para pahlawan, para pendiri bangsa ini dan pemuda era 1908.

Tahun 2008 ini, Indonesia memperingati hari kebangkitan nasional. Tahun ini adalah tahun istimewa, sebab kita mengenang 100 tahun kebangkitan nasional. Sebagai peringatan yang rutin tahunan, boleh jadi konsep kita tentang hari-hari peringatan itu telah membaku. Ada apel bendera, buat perlombaan memasak, lari karung, sepak bola, menulis. Bisa juga demonstrasi menuntut ini dan itu. Ada pula seminar, diskusi, pengobatan gratis. Hal-hal ini memang baik. Namun, merayakan hari-hari peringatan sebatas yang artifisial, seremonial, rutinitas, kontinuitas belum sepenuhnya tercakup dalam konsep memaknai hari peringatan itu. Hari-hari peringatan itu mesti dimaknai lebih dalam, digali lebih jauh dan diartikan lebih luas. Kita mesti sampai pada fokus menemukan spirit, roh, yang transendens, religiositas dari hari-hari peringatan nasional di negeri ini. Salah satu dari fokus itu adalah menyelami kultur ingatan dalam aksi-aksi melawan lupa.

Hari kebangkitan nasional yang dirayakan setiap tanggal 20 Mei merupakan bagian dari ingatan kolektif bangsa Indonesia. Sejarah bangsa ini telah dicatat dengan tinta darah kegigihan para pahlawan mempertahankan negeri ini dari kolonialisme. Sembilan puluh semblan tahun yang lalu, tepatnya pada tanggal 20 Mei 1908, berdirilah organisasi Boedi Oetomo, yang dikemudian dikenang sebagai Hari Kebangkitan Nasional. Saat itu bangkitlah suatu kesadaran tentang kesatuan kebangsaan untuk menentang kekuasaan penjajahan Belanda yang telah berabad-abad lamanya berlangsung di tanah air Indonesia.
Boedi Oetomo pada saat itu, merupakan perkumpulan kaum muda yang cerdas dan peduli terhadap nasib bangsa, yang antara lain diprakarsai oleh ; Dr. Soetomo, Dr. Wahidin Soedirohoesodo dan Dr. Goenawan dan Suryadi Suryadiningrat (Ki Hadjar Dewantara).

Semangat kebangkitan nasional muncul, ketika bangsa Indonesia mencapai tingkat perlawanannya yang tidak dapat dibendung lagi, untuk menghadapi kekuasaan kolonial Belanda yang tidak manusiawi dan tidak adil. Penegasan tekad bangsa untuk bebas dan merdeka dari belenggu kolonialisme dan imperialisme.

Kebangkitan kesadaran atas kesatuan kebangsaan atau nasionalisme yang lahir pada 20 Mei 1908, kemudian menjadi tonggak perjuangan yang terus berlanjut. Muncullah kemudian Jong Ambon (1909), Jong Java dan Jong Celebes (1917) Jong Sumatera dan Jong Minahasa (1918). Pada tahun 1911 juga berdiri organisasi Sarikat Islam, 1912 Muhammadiyah, 1926 Nahdlatul Ulama, dan kemudian pada tahun 1927 berdiri Partai Nasional Indonesia.

Perjuangan yang panjang itu, akhirnya mencapai puncaknya pada kemerdekaan bangsa, yang diproklamasikan pada tanggal 17 Agustus 1945. Negara kita seperti ditegaskan oleh para pendirinya adalah Negara Kesatuan Republik Indonesia (NKRI) yang ditegakkan berdasarkan prinsip Negara Hukum.

Tahun ini, kita mengenang kembali para pemuda era 1908 yang telah berjuang membangkitkan spiprit nasionalisme Indonesia. Beberapa Departemen akan merayakan secara khusus. Departemen Komunikasi dan Informartika juga akan melakukan hal yang sama, menggelar berbagai jenis perlombaan dan permainan untuk mengenang anak-anak muda pemberani kita dahulu.

Upaya kita mengenang, mengingat, menjaga ingatan dan berjuang melawan lupa adalah sebuah proses epistemologis. Bahkan dalam hal yang sangat sederhana, mengingat adalah awal dari proses mengetahui. Ingatan kita adalah pengetahuan kita. Ingatan sebagai pengetahuan adalah proses memuntahkan ke permukaan semua realitas yang telah terjadi yang terkubur dalam file-file memori kita.

Mengenang para pemuda yang menyampaikan spirit bangkit pada era 1908 adalah sebuah upaya yang tidak saja memutar pita memori kita pada deretan para pahlawan bangsa ini yang dikenal, diberi gelar pahlawan dan didokumentasikan dalam arsip-arsip bertinta emas di tumpukan-tumpukan arsip negeri ini. Ada banyak pahlawan yang tidak terdaftar, yang hidup mereka berakhir tragis karena risiko menempatkan kebenaran dan keadilan di atas segala-galanya. Ada banyak figur di negeri ini yang pantas menjadi pahlawan, namun ’dikalahkan’ sejarah bangsa sendiri. Kita kenang pejuang HAM, Munir, yang meninggal dalam kesendirian di atas pesawat dalam penerbangan menuju negeri Belanda.

Membahas ingatan, saya jadi teringat Milan Kundera penulis buku The Book of Laughter and Forgetting. Milan Kundera mengatakan bahwa perjuangan manusia melawan kekuasaan adalah perjuangan manusia melawan lupa. Bangsa kita memang kerap jatuh dalam dosa mudah melupakan sejarah, pun sejarah penderitaan. Kita cenderung melupakan dosa-dosa kekerasan masa lalu dan berbagai penyimpangan terhadap martabat manusia entah karena kita takut mengingatnya atau karena kita merasa itu bukan bagian dari sejarah hidup kita. Munir misalnyua selalu tampil mengingatkan kita semua agar tidak lupa. Mereka, seperti juga mendiang Bung Karno selalu berapi-api menggelegarkan jasmerah: jangan sekali-kali melupakan sejarah. Mereka dengan cara perjuangannya yang biasa namun konsisten hingga akhir telah berupaya melawan tindakan ”mematikan ingatan” oleh para penguasa sembari terus ”mempertahankan ingatan” terhadap berbagai penderitaan masa lalu.

Hari Kebangkitan Nasional hanya sehari. Namun, mengenang dan memaknai hari pahlawan haruslah setiap hari. Epistemologi ingatan kita tetap bertahan jika kita selalu me-refresh file memori kita dan bukan meniadakannya. Nilai-nilai kepahlawanan sangat kita butuhkan dalam zaman kita saat ini. Ada banyak penderitaan yang mendera hidup kita saat ini. Para penjajah itu tidak lagi dari negara lain, tetapi lahir dari negeri sendiri bahkan dalam diri pemerintah dan aparat kita. Korupsi masih merajalela. Kesewenangan-wenangan hukum masih berlaku; yang mencuri ayam dihukum, yang korup uang negara ratusan juta dan miliaran rupiah dibiarkan bebas. Para petani dan nelayan kita terus terjajah. Harga ditentukan sepihak oleh tengkulak dan pengusaha. Keringat mereka sering tak dihargai secara pantas. Kaum perempuan kita masih diperlakukan tidak adil, dijual, dijadikan budak seks. Nasib tenaga kerja juga tidak jelas, sering jadi korban di negeri orang.
Siapa yang harus jadi pahlawan untuk mereka-mereka ini? Boedi Oetomo hanyalah nama. Ki Hadjar Dewantara sudah tinggal kenangan. Para pemuda pemberani itu tinggal ingatan semata.

Kita yang hidup di zaman ini dengan berbagai kompleksitas hidup kita mempunyai tugas yang sama yakni melawan lupa, mendobrak aksi mematikan ingatan dan terus melestarikan kultur ingatan khususnya ingatan pada penderitaan itu sendiri, ingatan pada kebangkitan yang menggelorakan darah dan semangat kita.

Kita perlu merayakan kebangkitan nasional yang baru. Kebangkitan dari kebiasaan mengeruk uang rakyat untuk keuntungan pribadi. Mari kita bangkit bersama, kita bangkit bersama rakyat, bangkit untuk menggapai sesuatu yang lebih baik, sesuatu yang lebih indah.

Seabad kebangkitan nasional akan segera kita jelang. Siapkah kita bangkit dari ”tidur panjang” kita. Mari bangkit, mari melawan lupa.

Salam,

Ferdinandus Setu

Minggu, 18 Mei 2008

Meneladani Sophan

Sophan Sophian mendadak meninggalkan jagat Indonesia, Sabtu, 17 Mei 2008 akibat kecelakaan di sebuah desa di Ngawi, Jawa Timur. Ia telah pergi, agar kita yang hidup makin mencintai kehidupan. Mencintai kehidupan berarti tak takut dinyatakan berbeda dalam situasi apa pun. Sophan Sophian adalah teladan yang berani keluar dari pentas politik setelah menyaksikan dan mengalami sendiri bahwa politik yang dihidupkan di negeri ini adalah politik pentuh intrik, politik yang dijalankan demi kekuasaan semata.

Keteladananan Sophan itulah yang terekam dalam beberapa testimoni yang berhasil dirangkum Kompas Ketua Fraksi PDIP Tjahjo Kumolo menyebut Sophan sebaga pribadi pemegang teguh prinsip. ”Ia cukup unik, kala sudah punya prinsip, ya sudah,” kata Kumolo.

Menteri Sekretaris Negara Hatta Rajasa bertutur : Sophan adalah tokoh nasional yang gugur saat sedang menjalankan tugas negara, yakni saat mengemban tugas dalam Kepanitiaan Nasional Peringatan 100 Tahun Kebangkitan Nasional. ”I sangat jujur dan konsisten memegang prinsip baik di dunia politik maupun di dunia seni. Rasa cinta tanah airnya tak perlu diragukan lagi, ” kenang Hatta.

Akbar Tanjung, Doktor Politik lulusan UGM berkomentar : Sophan sesorang yang memiliki idealisme dan jiwa nasionalisme tinggi. Rekan Sophan, Eros Djarot bertestimoni : Ia pribadi Luar biasa dan memegang teguh prinsip.Slamet Rajardjo Djarot punya ungkapan senada : Ia benar-benar putih, putih di hati, putih di ucapan. Itu yang membuat saya kagum dan cemburu

Untuk diingat kembali, sebelum terjun ke dunia politik, Pria kelahiran Makassar, 26 April 1944 itu, menjadi anggota Partai Demokrasi Indonesia (PDI) pada tahun 1991. Suami Aktris Widyawati ini ini sempat menjadi Ketua UU Parfi (1977-1980) dan Sekjen parfi (1987-1988). Pada tahun 1999, Sophan menjadi Ketua DPP Partai PDIP dan terlilih sebagai ketua fraksi PDI Perjuangan DPR (1999-2004). Sebelum jabatannya berakhir, Sophan mengundurkan diri dari Ketua FPDIP dan angkat kaki dari Senayan. Keputusan mundur ia ambil setelah ia memlihat banyak yang tidak beres di lembaga parlemen itu. Ia menilai kebijakan partai banteng moncong putih sudah tidak sejalan lagi dengan idealismenya untuk memperjuangkan kepentingan rakyat. Ia kecewa melihat banyak kaum opportunis di lembaga perwakilan rakyat itu.

Apa yang perlu kita teladani dari seorang ”Letnan Harahap” ini? Pengunduran diri Sophan dari PDIP pada tahun 2002 membuktikan bahwa partai politik saat ini masih sibuk dengan urusan mendapatkan kekuasaan dan lupa melaksanakan perannya sebagai sarana pendidikan politik bagi anggotanya dan masyarakat luas.
Untuk mendeteksi kerancuan arah partai politik itulah, kita perlu mengemukakan empat pathologi sosial ketika memotret demokrasi di Indonesia dalam era reformasi. Pertama, hilangnya rasa saling percaya antara berbagai kelompok kekuasaan sosial politik di dalam masyarakat. Kedua, kecenderungan menggunakan kekuatan massa untuk memenangkan bargaining politik. Ketiga, munculnya otoritarianisme populis dalam percaturan politik dan relasi-relasi kekuasaan yang semakin mempersulit proses pembangunan politik sebagai sistem. Keempat, berkaitan dengan demokrasi sebagai nilai, terlihat para aktor politik ibarat hanya memenuhi sebuah undangan dalam suatu resepsi yang segala sesuatunya telah dipersiapkan, dan di sana ia cuma duduk patuh tanpa kritik.

Potret pathologi sosial ini nampak juga dalam kehidupan partai politik. Dan boleh jadi, partai politik saat ini menjadi salah satu faktor penyebab terjadinya pathologi sosial itu, karenanya Sophan hengkang dari PDIP. Hal ini terjadi karena parpol tidak berjalan sesuai arah dan tujuannya melainkan menyimpang oleh kepentingan sesaat pihak-pihak tertentu.

Peran Parpol

Secara konseptual, agar mampu memainkan perannya dalam penegakan demokratisasi, maka partai politik setidak-tidaknya harus mampu memainkan beberapa fungsi, antara lain: pertama, sebagai sarana komunikasi politik. Dengan fungsi ini partai politik harus mampu berperan sebagai penyalur aspirasi pendapat rakyat, menggabungkan berbagai macam kepentingan (interest aggregation), dan merumuskan kepentingan (interest articulation) yang menjadi dasar kebijakannya.

Kedua, sebagai sarana sosialisasi politik. Dengan fungsi ini partai politik harus mampu berperan sebagai sarana untuk memberikan penanaman nilai-nilai, norma dan sikap serta orientasi terhadap fenomen politik tertentu. Upaya parpol dalam sosialiasi politik antara lain meliputi penguasaan pemerintah dengan memenangkan setiap pemilu, menciptakan image bahwa ia memperjuangkan kepentingan umum, dan mampu menanamkan solidaritas dan tanggung jawab terhadap para anggotanya maupun anggota lain (in group dan out group).

Selain dua fungsi ini, fungsi yang ketiga adalah sebagai sarana rekruitmen politik. Dengan fungsi ini parpol mencari dan mengajak orang berbakat untuk turut aktif dalam kegiatan politik sebagai anggota partai, baik melalui kontak pribadi maupun melalui persuasi. Fungsi keempat, sarana pengatur konflik. Parpol berfungsi mengatasi berbagai macam konflik yang muncul sebagai konsekuensi dari negara demokrasi yang di dalamnya terdapat persaingan dan perbedaan pendapat (Muhammad Zaenuddin: 2004, 121).

Berdasarkan uraian fungsi parpol di atas, rakyat tentu sangat mengharapkan agar parpol menjadi aktor yang baik dalam proses demokratisasi di negara ini. Artinya, parpol mesti menjadi pisau bedah bagi fenomen pathologi sosial yang kian menggejala di republik ini. Bahkan untuk semakin memperjelas dan mempertegas fungsi parpol, UU No.31 Tahun 2002 tentang Partai Politik menggariskan beberapa fungsi partai politik sebagai sarana:

Pertama, pendidikan politik bagi anggotanya dan masyarakat luas agar menjadi warga negara Republik Indonesia yang sadar akan hak dan kewajibannya dalam kehidupan bermasyarakat, berbangsa dan bernegara. Kedua, menciptakan iklim yang kondusif dan program konkrit serta sebagai perekat persatuan dan kesatuan bangsa untuk menyejahterakan masyarakat. Ketiga, penyerap, penghimpun, dan penyalur aspirasi politik masyarakat secara konstitusional dalam merumuskan dan menetapkan kebijakan negara. Keempat, partisipasi politik warga negara dan kelima, rekrutmen politik dalam pengisian politik melalui mekanisme demokrasi dengan memperhatikan kesetaraan gender.

Pengunduran diri Sophan Sophiaan dari kancah PDIP pada tahun 2002, dan kembali kita kenang kini, tentunya patut menjadi pelajaran yang berarti bagi partai politik di negeri ini, yang konon menurut data Departemen Hukum dan HAM terakhir telah mencapai 40 partai.

Setiap kematian, selalu mengingatkan saya pada kata-kata Yukio Mishima (1925-1970) : ”If we value so highly the dignity of life, how can we not also value the dignity of death? No death may be called futile” . Dengan pernyataan itu, Mishima mau mengatakan bahwa apresiasi yang kita berikan pada kehidupan seharusnya berlaku sama pada kematian, karena kematian selalu membawa makna dan bukan hal yang sia-sia. Kematian Sophan bukanlalah hal yang sia-sia jika kita memaknai kematiannya sebagai awal dari perjuangan kita untuk membela kehidupan ini. Kematian hanyalah situasi batas, bukan situasi akhir. Sophan sudah terbatas bagi kita secara fisik, tetapi ia tidak pernah berakhir untuk kita.
Seperti yang dituliskan seorang feminis, Virginia Woolf, kepada Leonard, suaminya sebelum ia menenggelamkan dirinya, “…ada yang harus mati, agar kita semua bisa menghargai hidup.” Saya yakin, Sophan ingin agar kita memaknai kepergiannya seperti itu. Dan mau menunjukkan kepada kita bahwa hidup bisa menjadi sesuatu yang mewah, manakala kita telah berhenti menebarkan harapan dan membiarkan mesin kekerasan terus menggerus rasa kemanusiaan kita. Sophan Sophian, memang bukan sekadar nama. Di dunia lain pun ia tetaplah seorang demokrat tulen dan nasionalis sejati.


Rest in Peace, beristirahatlah dalam damai.

Salam,

Ferdinandus Setu