Selasa, 14 Agustus 2012
Kamis, 05 Juni 2008
Menjadi Dadang
Anda kenal Dadang? Ia muncul di layar kaca Trans-TV saban hari Senin hingga Jumat pukul 18.00 s.d. pukul 19.00. Ia adalah salah satu karakter Siitkom Suami-Suami Takut Istri. Mbak Ira Meida pernah menulis ikhwal sitkom ini di situs www.wikimu.com, pada tanggal 13 November 2007 dalam tajuk ”Sitkom Suami-Suami Takut : Menggusur Dominasi Para Pria??? Banyak pembaca Wikimu yang memberikan komentar atas sitkom andalan Trans TV tersebut. Ada yang menyatakan sangat menyukai sitkom yang benar-benar komikal itu.
Dalam sebuah episode, ketika hendak menyampaikan informasi penting kepada Pak RT and the gank, mang Dadang pura-pura keselak, tenggorokannya tiba-tiba macet. Itu adalah satu bahasa isyarat Dadang untuk meminta uang dari Pak Sarmili, Mas Karyo, Bang Tigor, dan Uda Faisal.
Dadang adalah perwujudan manusia kapitalis, manusia yang menempatkan uang, duit, rupiah alias dolar di atas segalanya. Bahkan ada yang telah menjadikan uang sebagai tuhan di muka bumi. Ia disembah, ia dipuja bak dewa.
Salam,
Saya berteriak kegirangan ketika TvOne, Rabu (4/6), melalui program berita Kabar Malam, menyiarkan kemenangan Barrack Obama (46) atas rivalnya Hilarry Clinton pertarungan menjadi calon presiden Amerika Serikat Partai Demokrat. Berita kemenangan ini adalah salah satu peristiwa penting yang paling saya tunggu sejak konvensi Partai Demokrat digelar. Benar-benar penantian yang panjang sejak awal Januari 2008. Saya memang pengagum senator Illinois itu. Kekaguman saya akan senator afro-amerika ini justru mendapat perlawanan serius dari istri saya. Pasalnya, ia adalah pendukung Hillary Clinton. Kemenangan Obama menggembirakan saya sekaligus membuat istri saya sedih sebab jagoannya kalah dalam pertarungan tersengit itu.
Ia menjadi sebatang kara setelah ibunya memilih berangkat ke Indonesia, mengikuti suami kedua. Ikhwal bahwa Obama memiliki seorang ayah tiri berkebangsaan Indonesia, mungkin salah satu faktor saya mengidolakan dan mendukung Obama. Setelah sempat tinggal di Indonesia, Obama memilih kembali ke Hawaii, tinggal bersama kakek dan nenek kulit putih. Pergulatan hidup dimulai karena hidup tanpa orangtua kandung, diiringi segregasi ras lingkungan di Punahou, Hawaii.
Banyak orang mencatat bahwa Obama berprestasi di sekolah. Hal ini mungkin turun dari ibunya yang cerdas dan pendobrak kebuntuan politik AS. Ayahnya juga pintar, mendapatkan beasiswa pada era Presiden John F Kennedy, yang merupakan salah tokoh idola Obama.
Dunia mencatat bahwa para wanita AS, yang menjadi ibu tunggal, menjadikan Obama sebagai pemberi semangat. Tanpa orangtua lengkap, Obama bangkit dan kini jadi calon presiden. Kita tahu bahwa Obama tak mengenal ayah secara dekat, tetapi ia selalu mengingat petuah ayahnya untuktidak menangis dan menatap masa depan. Air matanya mengalir ketika pesawat ayahnya lenyap di Samudra Pasifik saat terakhir kali menemui Obama di Hawaii tahun 1971.
Wall Street Journal Edis Asia, Kamis, 5 Juni menjadikan kemenangan Obama sebaga headline. Tulisan-tulisan lainnya di surat kabar itu juga menjadikan Obama sebagai topic of to day. Koran itu mencatat bahwa Obama yang suka bergaul kemudian melanjutkan sekolah ke California, kemudian ke Columbia University (New York, lulus 1983) dan Harvard University (Cambridge, lulus 1991).
Pada 1992, ia menikahi Michelle Robinson, lulusan Princeton dan Harvard, dengan latar belakang keluarga yang harmonis. Mereka dikaruniai dua orang putri, Malia Ann (9 tahun) dan Natasha (7 tahun). Kehidupan dengan Michelle,menutupi babak kegelisahan hidup Obama yang sempat terjerumus narkoba.
Wartawan Kompas, Simon Saragih, pada Kompas, edisi Kamis, 5 Juni 2008 menulis soal Obama, dalam tajuk ”Sejarah Mencatat Prestasi Obama”. Saragih menulis, mengutip laporan jurnalistik Associated Press, bahwa Obama bukan menemukan jati diri sebagai kulit hitam, tetapi mencoba membuat kehidupan Amerika Serikat tidak dipecah oleh ras. Awalnya, ia tak terpikir menjadi presiden, walau ketika sekolah di SD Asisi Jakarta, dalam pelajaran mengarang ia menuliskan ingin menjadi presiden.
Sebagai aktivis sosial di Chicago, ia melihat kemiskinan dan ketertinggalan warga kulit hitam. Sistem adalah penyebab semua itu. Untuk mengubahnya, Obama sadar hal itu harus dilakukan melalui gerakan politik.
Pada 2004, ia bertarung menjadi Senat AS dan menang. Hal ini tak lepas dari ketenaran yang diraihnya ketika menyampaikan pidato pada konvensi Partai Demokrat tahun 2004, mengantar John F Kerry sebagai nomine presiden Demokrat. Dari sinilah ia memutuskan diri menjadi calon presiden. Dan ternyata pilihannya tidak salah. Setelah melalui pertarungan yang sangat seru dan sengit dengan bakal calon presiden yang lain, termasuk dengan sang nyonya Clinton, pujaan dan idola istri saya, Obama akhirnya berhasil membuktikan diri bahwa bahwa angin perubahan itu kini menghembusi negeri Uncle Sam itu.
Ferdinandus Setu
Selasa, 03 Juni 2008
Mengiklankan Politik
MAKIN dekat pemilu, makin banyak iklan politik di koran dan televisi.
Kita mencatat ada tiga tokoh politik yang tengah melakukan aksi iklan politik yakni Sutrisno Bachir, Wiranto, dan Prabowo Subianto. Sutrisno Bachir, sang ketua umum Partai Amanat Nasional, tampil dengan iklan ”Hidup adalah perbuatan” dan ”puisi Chairil Anwar : sekali berarti sudah itu mati”. Wiranto, pendiri Partai Hati Nurani Rakyat (Hanura) hadir dengan iklan ”makan nasi aking” dan ”menagih janji SBY”. Sementara Prabowo Subianto, sang menantu mendiang Soeharto, tampil dengan ”himpunan kerukunan tani Indonesia”.
Belakangan, biaya iklan politik meroket. Sutrisno Bachir, melalui iklan hidup adalah perbuatannya dan puisi Chairil, konon, menghabiskan anggaran sebesar Rp 20 miliar. Kabarnya iklan Sutrisno Bachir yang juga pengusaha asal Pekalongan itu, digagas dan dieksekusi oleh Rizal Malarangeng. (Makanya Rizal menampilkan idolanya Chairil Anwar ke dalam iklan politik Sutrisno Bachir). Rp 20 milair, luar biasa besar. Setidaknya besaran angka yang sama harus dikeluarkan oleh Wiranto dan Prabowo Subianto. Pertanyaannya, bisakah uang sebanyak itu membeli suara? Kita tak tahu pasti. Hanya waktu yang bisa menjawabnya kekal, di dua ribu sembilan.
Saat ini misalnya, selain Wiranto, ada Prabowo Subianto dan Soetrisno Bachir yang mengiklankan diri. Siapa pun bisa menduga bahwa iklan marketing politik mereka itu ditujukan untuk "menjual diri" agar citra dan popularitasnya meningkat. Tidak terlalu sulit menebak tujuan para tokoh itu beriklan. Untuk keperluan persaingan dalam pemilu legislatif 2009 dan pemilihan presiden 2009.
Salam,
Minggu, 01 Juni 2008
Menolak Uang
Sebuah tindakan marketing digelar, Minggu, 1 Juni 2008 di sebuah lapangan terbuka Serang, Banten. Konon, 100 juta rupiah dicurhahkan dari atas pesawat mini ke ratusan orang yang berkumpul di lapangan. Karena saya tidak melihat langsung pembagian uang tersebut, maka ada baiknya kita simak aja laporan wartawan Kompas berikut ini.
Kita tentu sepakat bahwa, uang ( money ), tentu saja tidak sekadar alat pembayaran yang sah atau sebagai alat tukar resmi di suatu negeri. Uang bagi masyarakat urban dan metropolitan merupakan simbol status sosial dan kesewenang-wenangan. Mungkin juga pertanda keserakahan dan kebinalan bermanipulasi. Ada yang berpendapat bahwa uang itu pendusta sejati! Dia pun pandai menipu, bahkan kepada dirinya sendiri. Dan, Tuhan sekalipun, tega diperdayainya. Saat ini, kita sepakat baha uang begitu berkuasa di Bumi ini.
Mar kita lihat pandangan para filsuf atas uang. Aristoteles (384-322 SM), sang filsuf Yunani Kuno yang pernah mengatakan “ It is better to pay a creditor than to give to a friend ”, dalam karyanya Nichomachean Ethics , menulis: “ Money has become by convention ‘money'—because it is exists not only by nature but by law (nomos) and it is in our power to change it and make it useless ”. Nilai uang itu tidak ditentukan secara kodrati, melainkan oleh hukum yang dibuat sendiri oleh manusia.
Fakta ini tentunya tak dapat dibantah. Dan, Aristoteles benar. Kita tentu masih ingat sejarah gejolak moneter yang pernah terjadi di
Georg Simmel (1858-1918), generasi pertama Sosiolag Jerman yang menghabiskan masa hidupnya di
Terkait uang, ada adagium “ Time is money ” (waktu adalah uang), bagi mereka yang dapat memanfaatkan uang—bukan dimanfaatkan oleh uang; mungkin terjadi kebalikannya. “ Money is time ”, uang adalah waktu. “ Money is time and energy ”. Kita tentu sepakat dengan apa yang dikatakan essayist Inggris, Samuel Johnson (1709-1784), “ Money and time are the heaviest burdens of life, and... the unhappiest of all mortals are those who have more of either than they know how to use ”.
Sikap saya atas tindakan Tung Desem Waringin mencurahkan uang dari atas langit kepada warga miskin adalah satu: Memberikan sebagian kekayaan kepada orang lain adalah tindakan yang sangat terpuji. Tapi sekali lagi, memberi demi gimmick marketing dan demi popularitas diri, sangat saya sesali. Apalagi di zaman yang lagi susah seperti ini. Jangan mencederai kemiskinan warga dengan tindakan yang tidak berhatinurani. Marketing yes, tapi jangan menciderai nurani orang miskin.
Membunuh Televisi
Belum lama ini, Komisi Penyiaran Indonesia Pusat meminta masyarakat untuk mewaspadai 10 program acara yang dianggap bermasalah yang ditayangkan sembilan stasiun TV swasta nasional Indonesia.
Adanya sebuah media komunikasi membawa serta berbagai tujuan dalam dirinya. Tujuan pokok sebuah media komunikasi adalah menyampaikan informasi secara efektif dan efisien serta berfungsi menyampaikan informasi mengenai ’kebenaran’. Kebenaran disederhanakan menjadi semacam kepercayaan yang dianggap masuk akal demi melanggengkan suatu kepentingan. Manusia tidak dapat menutup mata terhadap aspek positif TV.
Kehadiran TV dalam hidup manusia sungguh menebar pesona. TV telah menjawabi semua keinginan dan kebutuhan manusia. Ia menyediakan apa yang diharapkan dan dicita-citakan manusia. Sebagai ‘kotak ajaib’, TV menjadi salah satu keajaiban dunia yang menandai civilisasi dan humanisasi manusia. Pesona TV itu nampak melalui kemasan acaranya yang menarik, melalui iklan-iklan yang ditawarkan, melalui bahasa dan simbol yang menarik, mudah dimengerti dan menggugah. Dengan pesonanya, TV telah mendominasi komunikasi manusia. Ia telah mendapat tempat dan posisi strategis dalam tata ruang rumah tangga dan keluarga. Pesona TV yang begitu dahsyat melalui film, telenovela, sinetron, iklan, jurnalisme sangat mempengaruhi sendi-sendi kehidupan umat manusia. Dalam skala prioritas, TV telah menempatkan posisi urgen untuk ditonton dan dinikmati. Di rumah kita, televisi selalu ditempatkan di tempat yang strategis. Televisi telah menjadi pesona.
Hemat saya, latihan kesadaran ber-TV atau TV-Arwaraness perlu diadakan di dalam keluarga, sekolah dan kelompok-kelompok masyarakat. Latihan ini bertujuan mendidik masyarakat agar menjadi pembaca, mendengar, pemirsa yang aktif. Mereka diajar untuk mengiterpretasi isi media, membuat fokus dan bertanya manakah informasi yang baik dan negatif. Seirama dengan pandangan di atas, kita membutuhkan langkah-langkah praktis.
Pertama dan utama adalah selektif. Kita membuat klasifikasi acara mana yang bisa ditonton, artikel mana yang bisa dibaca, berita apa yang bisa didengar. Di sini urgensitas berita menjadi hal utama. Kita menonton TV dengan acara tertentu karena memiliki pijakan yang jelas. Kedua, tahu melihat prioritas nilai. Kecenderungan terbesar di kalangan generasi muda saat ini adalah kehilangan orientasi hidup yang berakibat pada tiadanya prioritas nilai dalam hidup. Waktu untuk menonton TV lebih banyak ketimbang untuk belajar. Prioritas itu penting karena ia seperti kompas yang mengatur arah kerja dan aktivitas.
Selain itu, sebagai pemirsa yang mengkonsumsi TV dan segala programnya kita mesti berlaku sebagai “penulis kedua”. Maksudnya, pengarang-pengarang acara, pengarah program dan mereka yang menampilkan iklan adalah “penulis pertama”. Mereka hadir dalam prespektif mereka sendiri, dalam hasil studi dan refleksi mereka ketika membaca kenyataan. Sikap kritis kita, kita tampil di sini bahwa tidak semua yang disajikan adalah “makanan bergizi” yang cocok untuk kita. Makanan boleh enak tetapi belum tentu bergizi. Makanan boleh enak, tapi kalau mengandung kadar lemak tinggi, kolesterol kita bakal naik. Itu menyebabkan kita mati muda. Karena itu, kita sendiri mesti memiliki ’preunderstanding’, sebuah pemahaman awal yang sudah ada sebelum menonton sesuatu. Dan kita berada di jalur ini: di satu pihak kita memiliki pemikiran kritis, di pihak lain kita menikmati sajian dalam sebuah konfrontasi yang terus-menerus. Ada suasana diskursus di sini, sebuah dialektika yang memampukan kita tidak duduk sebagai objek melainkan sebagai subjek yang terlibat di dalam sebuah wacana yang ditampilkan.
Mencintai Buku
Suatu kebiasaan yang ingin saya tumbuhkan kepada putra kami adalah kecintaan kepada buku. Saban hari Sabtu dan/atau Minggu, saya dan istri mengajak buah hati kami yang masih berusia 6 bulan berkunjung ke Perpustakaan Kota Jakarta Pusat, di Jalan Tanah Abang I. Jarak tempuh 5 menit jalan kaki dari istana kami di Petojo Enclek XIII. Meski anak kami benar-benar masih belum paham benar apa itu buku, apa itu perpustakaan, kami tetap nekat mengajak dia turut serta ke rumah buku itu. Alasannya, kami ingin mengenalkan suasana buku, suasana perpustakaan kepadanya.
Hemat saya, Membaca buku bisa mengubah pola pikir seseorang untuk meningkatkan wawasan dan pengetahuan. Membaca buku juga bagian dari proses pendidikan bagi pembacanya. Hanya saja, sebagian besar kegiatan membaca selama ini kerap diterima sebagai kewajiban atau keharusan. Hal itu dikatakan pakar pendidikan Arief Rachman. Menurutnya, orang tua dan guru harus terlibat aktif menumbuhkan minat baca di kalangan anak dan siswa. Jangan biarkan anak menonton tayangan televisi yang tidak jelas. Menyalahkan anak dan siswa saja tentu tidak bijak, apabila orang tua dan guru tidak memberikan teladan. Sangat indah ketika kita menyaksikan anak-anak sejak dini sudah dibiasakan untuk membaca
Membaca tidak lain adalah supplement food atau energy drink bagi para penulis. Kalau ada penulis yang mengaku bisa produktif tanpa membaca sama sekali, hemat saya ada dua kemungkinan. Pertama, ia memang sudah mencapai tahap ‘manusia guru’ atau manusia setengah dewa. Kedua, ia berbohong, dan ini rupanya lebih masuk akal. Menulis bisa gampang kalau suplai informasi ke otak dan batin kita memadai. Proses pemasukan informasi itu berasal terutama dari aktivitas membaca. Membaca berarti memberi makna. Dengan membaca kita menafsirkan teks sekaligus belajar memahami konteks. Kita mencoba memahami apa yang tersurat sekaligus apa yang tersirat. Ini menjadi bagian pemulihan energi untuk penulis.
Buku adalah jendela dunia. Dengan membaca buku, kita menimba banyak manfaat. Membaca itu memperluas wawasan dan memperkaya perspektif kita, memperoleh banyak solusi atas berbagai masalah yang dihadapi, mengatasi trauma atau frustrasi, memadukan kerja pikiran sadar dan tidak sadar. Selain itu, membaca berarti mengolahragakan pikiran dan menimba kesegaran baru.
Sudah saatnya budaya membaca itu menjadi budaya kita. Anak-anak dilatih untuk membaca dan mencintai bacaan sejak dini. Perpustakaan yang ada di mana-mana bukanlah museum bagi buku-buku bacaan. Itu universitas rakyat, seperti moto perpustakaan umum di daerah-daerah. Ada banyak buku menarik dan berguna di perpustakaan-perpustakaan kita yang ada saat ini. Namun, tak ada artinya jika tidak dibaca. Benar kata-kata Joseph Brodsky, pengarang asal Rusia: “Ada beberapa kejahatan yang lebih buruk daripada membakar buku. Salah satunya adalah tidak membaca buku.” Bahkan ada anekdot satir untuk kita: “Kalau orang Jepang tidur sambil membaca, sedangkan orang Indonesia membaca sambil tidur.”
Masyarakat membaca (reading society) bisa dimulai dari kebiasaan membaca. Mencintai buku adalah awal dari kebiasaan gemar membaca. Sudahkan Anda membaca hari ini?
Salam,
Ferdinandus Setu